| Ancaman Dan Pencegahan Flu Burung | |
| I. MAKSUD DAN TUJUAN Ancaman dan pencegahan Flu Burung dimaksud sebagai acuan dalam memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar dapat memahami tentang Flu Burung. Tujuannya ialah : 1. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Flu Burung agar masyarakat mampu secara mandiri melakukan pencegahan dan penanggulangannya. 2. Meningkatkan kesadaran masyarakat (public awareness) untuk mewaspadai gejala, sifat dan penyebarannya. II. PENANGGULANGAN FLU BURUNG Dalam upaya melaksanakanpencegahan dan penanggulangan flu burung, Pemerintah RI mempunyai Rencana Strategis Nasional Penanggulangan Avian Influenza. Strategi untuk penanggulangan Flu burung, yaitu: 1. Pengendalian penyakit avian influenza pada hewan, 2. Penatalaksanaan kasus pada manusia dan pencegahan infeksi baru pada unggas, 3. Perlindungan pada kelompok resiko tinggi, 4. Surveilans epidmiologi, 5. Restrukturisasi sistem industri perunggasan, 6. Komunikasi, resiko, informasi dan peningkatan kesadaran masyarakat, 7. Memperkuat peraturan perundang-undangan, 8. Peningkatan Kapasitas 9. Penelitian kaji tindak, 10. Monitoring dan evaluasi. A. PADA UNGGAS Virus Avian Influenza dapat menimbulkan gejala penyakit pernafasan pada unggas,dari yang kurang ganas sampai yang bersifat sangat ganas. Masa inkubasi penyakit ini adalah 3hari pada unggas luar kandang,sedangkan untuk unggas didalam kandang mencapai 14-21 hari. Unggas merupakan sumber penularan virus avian influenza. Kebanyakan virus ini diisolasi dari itik, meskipun kebanyakan dapat juga terinfeksi termasuk burung liar dan unggas air.Kerugian akibat kematian unggas karena Flu Burung ialah penurunan harga produk unggas,tertutupnya peluang ekspor, peningkatan biaya penanggulangan penyakit. 1. Sifat Virus Didalam tubuh unggas virus avian influenza dapat berkembang biak menjadi sangat banyak.Virus avian influenza juga bersifat labil. Virus avian influenza juga dapat beradaptasi dengan obat maupun vaksin.Virus avian influenza merupakan virus yang lemah yang tidak tahan panas dan zat desinfektan/pensuci hama.Dari sifat virus ini jelas dapat dilakukan upaya pencegahan penularan virus antar unggas maupun terhadap manusia. 2. Gejala Avian influenza memiliki gejala yang bervariasi. Pada umumnya gejala yang ditimbulkan oleh infeksi virus avian influenza akan menunjukan gejala klinis,sebagai berilkut : • Jengger, pial, kulit perut yang tidak dirumbuhi bulu, berwarna biru keunguan, • Kadang–kadang ada cairan dari mata dan hidung , • Pembengkakan di daerah bagian muka dan kepala, • Pendarahan dibawah kulit, • Pendarahan titik pada daerah dada, kaki, dan telapak kaki, • Batuk,bersin dan ngorok, • Unggas mengalami diare dan kematian tinggi Hal yang perlu di waspadai apa bila terjadi kematian pada unggas dalam jumlah besar. Gejala penyakit lain yang mirip dengan avian influinza adalah New castle Disease (ND/tetelo), Cholera unggas (Fowl Cholera) dan penyakit saluran pernafasan ata pad unggas. 3.Cara Penularan Penyakit influenza fli burung dapat di tularkan dari unggas ke unggas atau dari perternakan lainya dengan cara: 1.Kontak langsung dari unggas terinfeksi dengan hewan yang peka. 2. Kontak tidak langsung Penularan dengan kontak tidak lansung melalui : • Percikan air atau lendir yang berasl dari hidung dan mata • Paparan muntahan • Lubang anus (tinjal)unggas yang sakit • Penularan lewat udara akibat konsentasi virus yang tinggi terdapat dalam saluran pernafasan • Melalui sepatu dan pakaian perternak yang terkontaminasi • Melalui pakan, air dan peralatan yang terkontaminasi virus • Melalui perantara angin yang memiliki peran penting dalam penularan penyakit dalam satu kandang tetapi memiliki peran terbatas dalam penyebaran antar kandang. 4. Cara Pencegahan Dalam menanggulangi avian influenza dilakukan 3 pola yakni; Pencegahan berupa upaya yang dilakukan untuk menghindari terjadinya avian influenza; Pengendalian merupakan upaya untuk mengendalikan jika terjadi kasus avian influenza. Pelaksanaan pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit dilakukan dengan melaksanakan 9 langkah penanggulangan avian influenza hewan yang terdiri atas: 1. Peningkatan keamanan dari penularan 2. Vaksinasi lengkap, 3 kali dalam setahun 3. Pemusnahan terbatas di daerah tertular 4. Pengendalian lalu lintas unggas, produk unggas, dan limbah peternakan unggas 5. Surveilans dan penelusuran 6. Pengisian kandang kembali 7. Pemusnahan menyeluruh di daerah tertular 8. Peningkatan kesadaran masyarakat 9. Monitoring dan evaluasi Dari kesembilan langkah tersebut langkah utama yang dapat dilaksankan oleh masyarakat adalah pelaksanaan biosekuriti Yang ketat, vaksinasi lengkap,pemusnahan terbatas, pengisian kandang kembali, dan pemusanahan menyeluruh. Pemusnahan unggas selektif di peternakan tertular dilakukan dengan: a. Membunuh dengan menyemblih semua unggas hidup yang sakit dan unggas sehat yang sekandang dan memusanhkan dengan pembakaran. b. Pembakaran • Membakar dan menguburkan unggas mati • Lubang tmpat penguburan harus berlokasi di dalam areal peternakan tertulardan berjarak minimal 20 metr dari kandang. • Apabila lubang tempat penguburan trletak diluar areal peternakan tertular maka harus jauh dari pemukiman penduduk. B. PADA MANUSIA Berbagai upaya perlu dilakukan dalam penanggulangan, meningat penyakit flu burung berpotensi menimbulkan wabah. Selama masih terdapat kasus avian influenza pada unggas atau belum tuntasnya penanggulangan pada unggas,terjadinya kasus baru avian influenza pada manusia masih dimungkinkan. Pada tahun 2007(Sampai dengan 7 Maret 2007) terdapat 5 negara yang terjangkit Avian influenza pada manusia yang trdiri atas: - 2 negara infeksi baru yaitu Laos dengan 1 kasus dan Nigeria dengan 1 kasus dan meninggal. - 3 Negera infeksi lama yaitu RRC, Egypt/Mesir dan Indonesia Jumlah kumulatif kasus Avian inflienza pada manusia didunia dari tahun 2003 sampai 7 Maret 2007 yaitu 280 dan diantaranya 168 meninggal atau angka kematian 60%. Di Indonesia, kejadian luar biasa (KLB) Flu Burung pada unggas telah terjadi dengan ditandai jutaan ternak ayam mati, dan pada saat itu terindentifikasi adanya serangan virus ini dari unggas kepada manusia. Dalam upaya melaksankan pencegahan dan penanggulangan KLB flu Burung Departemen Kesehatan RI mempunyai 7 langkah strategis Nasional yaitu ; 1. Pengendalian KLB pada unggas dan pencegahan infeksi baru pada unggas, 2. Perlindungan pada kelompok resiko tinggi, 3. Surveilans Epidemologi 4. KIE atau komunikasi resiko , 5. Penatalaksanaan kasus dan pengendalian infeksi pada sarana pelayanan kesehatan, 6. peningkatan studi/Penelitian dan pengembangan. 7. Pernyataan KLB Nasional Flu Burung 1. Definisi Kasus a. Kasus Suspek Kasus suspek adalah seorang yang menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dengan gejala demam. b. Kasus “Probable” Kasus “probable” adalah kasus suspek disertai salah satu atau lebih keadaan; • Ditemukan kenaikan titer antibodi terhadap H5 minimum 4 kali dengan pemeriksaan uji HI atau uji ELISA, • Pemeriksaan laboratorium dengan mikro neutralization tes menunjukkan adanya antibodi specific influenza A/H5 c. Kasus Konfirmasi atau positif flu burung Kasus konfirmasai adalh kasus suspek atau “probable” disertai oleh salah satu hasil pemeriksaan laboratorium: • Kultur virus influenza A/H5N1 positif • RT-PCR influenza (H5) positif • Peningkatan titr antibodiy H5 sebesar 4 kali atau lebih pada pemeriksaan. 2. Gejala Klinis Gejala klinis flu burung /avian influenza pada manusia, umumnya seperti gejala influenza biasa yaitu demam(panas), sakit tenggorokan, batuk,pilek, nyeri otot, sakit kepala, lemas, kadang-kadang disertai gejala diare. 3. Cara Penularan Cara Penularan virus flu burung dari unggas ke manusia melalui car kontak langsung dengan unggas yang sakit, mati,tinja, cairan unggas yang terserang flu burung. Cara penularan virus flu burung dari unggas ke manusia ke manusia dapat pula melaui kontak tak langsung melalui lingkungan yang tercemarvirus. Dari hasil penyelidikan epidemologi terhadap 84 kasus positif Flu burung di Indonesia di temukan faktor resiko penularan. 4. Pemeriksaan dan pengobatan Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menilai keadaan kesehatan penderita dan juga untuk mendeteksi bakteri/virus apa yang menyerang penderita tersebut. Pemeriksaan laboratorim untuk menilai jumlah sel darah putih(leukosit),limfosit,fungsi hati, fungsi ginjal dan yang penting juga analisis gas darah arteri. 5. Pencegahan dan Kewaspadaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, secara umu prinsip-prinsip kerja yang higienis.Khusus pada peternakan dan pemotongan hewan terdapat beberapa anjuran WHO yang dapat dilakukan : 1. Semua orang yang kontak dengan binatang terinfeksi harus sering-sering mencuci tangan dengan sabun 2. Mereka yang memegang, membunuh dan membawa atau memindahkan unggas yang sakit dan atau mati karena flu burung harus melengkapi diri dengan baju pelindung. 3. Ruangan kandang perlu selalu dibersihkan dengan prosedur yang baku dan memerhatikan faktor keamanan petugas. 4. Pekerja peternakan pemotongan unggas, dan keluarganya perlu diberi tahu untuk melaporkan ke petugas kesehatan. 5. Dianjurkan juga agar petugas yang dicurigai mempunyai potensi tertular harus dalam pengawasan petugas. 6. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Dengan mencuci tangan secara baik dan benar anak akan terhindar dari ancaman tertular kuman, bakteri, atau virus flu burung. Juga perlu dilakukan kebersihan lingkungan disekitar kita. 7. Cara Mencuci tangan yang Benar Berikut ini adalah cara–cara sedrhana mencuci tangan yang benar. 1) Cuculah tangan anda dengan air mengalir 2) Gunakan sabun dan kemudian gosok tangan denan sabun sampai berbusa. 3) Bilaslah tangan, kemudian keringkan dengan baik mengunakan handuk. 8. Kebersihan Lingkungan Kebersihan lingkungan merupakan penangan risiko terbaik dalam pencegahan terhadap penularan penyakit. Untuk mencegah tertular oleh virus flu burung perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Bersihkan kandang secara rutin b. Buanglah kotoran unggas dengan cara dikubur dan ditimbun Bersihkan makanan unggas yang tercecer dilantai c. Alirkan limbah cair yang berasal dari hasil pembersihan kandang ke salpembuangan kotoran d. Jauhkan kandang-kandang unggas dari tempat tinggal e. Apabila ada unggas yang mati gunakan sarung tangan atau kantong plastik dipakai pada kedua tangan. f. Bagi pekerja pada peternakan unggas seharusnya: 1) menggunakan pakaian pelindung diri 2) Cuci tangan dengan desifektans atau sabun 3) Jangan merokok dan makan di dalam areal kandang g. Apabila akan menggunakan pupuk kandang pada tanaman diharapkan menggunakan sarung tangan. III. KEWASPADAAN MENGHADAPI PANDEMI INFLUENZA 1. Menghadapi Pandemi Influenza pada Manusia Virus influenza manusia sering disebut flu saja atau influenza musiman,beredar dan menular antar manusi.Ada tiga macam tipe virus influenza yaitu tipe A,B,dan C. Biasanya yang menyebabkan timbulnya wabah adalah tipe A. Salah satu sifat virus influenza ialah mudah berubah. Sifat virus flu yang mudah berubah menyebabkan vaksinnya juga harus selali dievaluasi.Virus influenza pada manusia di belahan bumi utara dengan belahan bumi selatan saja bisa berbeda sehingga vaksinnya juga berbeda. Vaksin influenza musiman pada manusia yang sekarang tersedia bukan untuk melindungi penularan virus flu burng dari unggas ke manusiatetapi untuk mencegah terjadinya reasortment yaitu bercampurnya bahan pembawa sifat (gen) antara virus flu burung dan virus baru yang berpotensi mudah menular dari manusia ke manusia. Para ahli didunia memperkirakan kemungkinan terjadinya Pandemi influenza dimasa mendatang yang bersumber dari perubahan pembawa sifat virus flu burung sub tipe A/H5N1. Pandemi adalah wabah penyakit yang melanda banyak negara didunia. Menurut para ahli pandemi influenza yang akan datang dapat terjadi bila virus Flu Burung A/H5N1 mengalami : • Mutasi adaptasi yaitu perubahan pembawa sifat karena proses penyesuaian baik pada unggas maupun pada manusia. • Reasossortment yaitu bercampurnya atau pertukaran materi pembawa sifat antara virus flu burung dengan virus influenza musiman. Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan telah menyusun rencana stragis nasionaldalam menghadapi pandemi influenza. Strategi dalam menghadapikemungkinan terjadinya Pandemi influenza meliputi: 1. Penguatan Manajemen Berkalutan, 2. Penguatan Surveilans pada hewan dan mannusia, 3. Pencegahan dan pengendalian, 4. Penguatan Kapasitas Respons Pelayanan Kesehatan 5. Komunikasi, resiko, Informasi dan edukasi 6. Rencna Kontigensi Pandemi influenza Kesiapsiagaan Pandemi Influenza yang meliputi tiga periode yakni: a. Periode Interpandemi b. Periode Kewaspadaan terhadap pandemi c. Periode pandemi a. Periode Interpandemi Periode interpandemi terbagi atas dua fase yakni: Fase1. (Indonesia sebelum juli, 2003)Suatu subtipe virus influenza yang telah menyebabkan infeksi pada manusia mungkin ada pada binatang. Jika ada pada manusia diperkirakan rendah Fase 2. Tidak ada subtipe virus influenza baru dideteksi pada manusia. Tetapi, suatu subtipe virus influenza bersirkulasi pada binatang memiliki suatu resiko penyakit pada manusia.Di Indonesia fase ini mulai pada bulan Agustus 2003 ketika virus subtipe H5N1 dideteksi pada unggas b. Periode Kewaspadaan Terhadap Pandemi Periode kewaspadaan terdiri dari tiga fase yaitu; Fase1. Di Indonesia fase ini mulai pada bulan juli 2005 ketika infeksi oleh subtipe H5N1 dikonfirmasikan pada manusia. Dunia termasuk Indonesia sampai saat ini (7 Maret 2007) berada pada fase ini. Fase2. Kelompok melingkar kecil dengan penularan terbatas dari manusia tetapi penyebaran sangat terlokalisir.. Fase3. Kelompok lebih besar, tetapi penyebaran dari manusia ke manusia masih terlokalisasi memberi isyarat bahwa virus itu meningkat menjadi lebih baik. c. Periode Pandemi Periode pandemi masuk dalam fase ke enam dari keseluruhan periode yakni fase penularan yang meningkat, efisien dan berkesinambungan pada masyarakat umum. Untuk mencegah kemungkinan terjadinya pandemi influenza subtipe baru, perlu dilakukan pencegahan dan penanggulangan secara tuntas pada sumber infeksinya yaitu pada unggas. IV. PENUTUP Penyebaran virus flu burung di Indonesia akhir-akhir ini meningkat.Hingga 7 Maret 2007 telah terjadi 84 kasus positif flu burung pada manusia (Confirmed Case) dan 64 diantaranya meninggal.Masyarakat menjadi khawatir, virusnya menyebar lebih cepat dan terjadi penularan pada manusia tanpa terkendali. Diperkirakan kasus serupa kemungkinan dapat terjadi diwaktu-waktu mendatang sebagaimana kasus pandemi influenza pertama yang disebut flu Spanyol (Spanish Flu) pada tahun 1918 yang menelan sekitar 40-50 juta korban di dunia. Oleh sebab itu penyakit ini sangat mencekam, karena bukan saja berdampak kerugian usaha ekonomi rakyat atau peternakan tapi juga mengancam kehidupan manusia. Pemerintah menyadari bahwa proses sosialisasi, khususnya komunikasi resiko, informasi dan pendidikan menjadi amat strategi dalam menghadapi situasi semacam ini. Diharapkan dengan penanganan proses tersebut secara benar maka kesadaran dan kewaspadaan seluruh lapisan masyarakat dalam mengatasi penyebaran flu burung maka masyarakat selalu tanggap terhadap upaya-upaya penanggulangan, pencegahan dan penyebaran wabah flu burng ini. Untuk itu disarankan agar masyarakat lebih proaktif mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang penyakit ini, agar dapat terhindar dari bahaya wabah /flu burung.Departemen Pertanian, Departemen Kesehatan dan Instansi terkait lainnya terus berupaya mengurangi faktor rsiko wabah/kejadian luar baisa penyebaran flu burung dengan cara penanggulangan kejadian luar biasa pada unggas yang merupakan sumber infeksi/sumber penularan, peningkatan manajemen kasus, perlindungan kelompok resiko tinggi.Dan penelitian/kaji tindak. Dalam mendukung upaya–upaya tersebut departemen komunikasi dan informatika bersama departemen pertanian, departemen kesehatan maupun instansi terkait lainnya menyusun paket informasi publik tentang ancaman dan pencegahan wabah flu burung. Dimasa mendatang buku ini akan terus mengalami penyempurnaan. Oleh karena itu diharapkan masukan dari seluruh instansi pemerintah dan institusi lainnya melalui situs web kominfo.go.id. Sumber : Departemen Komunikasi Dan Informatika RI |
Jumat, 12 Februari 2010
AWAS!!!! FLU BURUNG
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar